Digital Site Kami seorang Muslim dan seorang pemimpi. Kami berprinsip bahwa ketika kami melakukan hal yang TERBAIK dengan DOA, maka yang BAIK akan TERCAPAI dengan SEMPURNA. ( Fuad & Nanda )

Revolusi Industri 4.0

5 min read

revolusi industri 4.0 adalah

PENGERTIAN REVOLUSI INDUSTRI 4.0

Sebenarnya, apa itu revolusi industri 4.0? Secara singkatnya, pengertian revolusi industri 4.0 adalah suatu tren yang ada di dunia industri yang menggabungkan suatu teknologi otomatisasi dengan suatu teknologi cyber.

Pada industri 4.0, teknologi yang diterapkan pada kegiatan manufaktur sudah masuk ke dalam trend otomatisasi dan juga pertukaran data. Hal tersebut mencakup berbagai sistem cyber-fisik, komputasi kognitif, internet of things (IoT), dan komputasi awan.

Trend ini sudah mengubah banyak bidang yang berada di kehidupan manusia, seperti bidang ekonomi, dunia kerja, bahkan sampai gaya hidup manusia itu sendiri.

Secara singkatnya, revolusi industri 4.0 menggunakan suatu teknologi cerdas yang bisa terhubung dengan berbagai bidang yang ada di kehidupan manusia.

Baca Juga: Apa Itu Fintech (Financial Technology)?

 

PRINSIP INDUSTRI 4.0

Suatu revolusi industri 4.0 mempunyai empat prinsip yang dapat memungkinkan setiap perusahaan untuk bisa mengidentifikasi dan menerapkan berbagai skenario industri 4.0, diantaranya adalah sebagai berikut:

Interoperabilitas (kesesuaian); adalah suatu kemampuan perangkat, mesin, sensor, dan juga manusia untuk dapat terhubung dan saling berkomunikasi satu dengan yang lainnya melalui berbagai media internet untuk segalanya (IoT) atau internet untuk khalayak (IoT).

Transparansi Informasi; adalah suatu kemampuan sistem informasi untuk dapat menciptakan berbagai macam salinan dunia fisik secara virtual dengan memperkaya model pabrik digital dengan data sensor.

Bantuan Teknis; pertama, kemampuan suatu sistem bantuan untuk dapat membantu manusia dalam mengumpulkan berbagai data dan untuk membuat visualisasi supaya dapat membuat berbagai keputusan yang bijak.

Kedua, suatu kemampuan dari sistem siber-fisik untuk dapat membantu manusia melakukan berbagai macam tugas yang berat, tidak menyenangkan, atau tidak aman untuk dilakukan oleh manusia.

Keputusan Mandiri; adalah suatu kemampuan dari sistem siber-fisik untuk  dapat membuat berbagai keputusan dan melakukan tugas secara mandiri.

 

SUDAH SIAPKAH DALAM MENGHADAPI REVOLUSI INDUSTRI 4.0?

Revolusi industri 4.0 ini akan membawa banyak sekali perubahan dengan semua konsekuensi yang terdapat didalamnya, industri yang ada akan semakin kompak dan juga efisien.

Namun ada pula berbagai risiko yang mungkin akan muncul, misalnya adalah berkurangnya jumlah Sumber Daya Manusia yang dibutuhkan karena sudah digantikan oleh mesin atau robot.

Dunia pada saat ini memang sedang mencermati proses revolusi industri 4.0 ini secara saksama. Berjuta peluang ada dalam revolusi industri 4.0 ini, namun di sisi lain terdapat banyak sekali tantangan yang harus dihadapi.

Prof. Klaus Martin Schwab, seorang teknisi dan ekonom yang berasal dari Jerman, yang juga seorang pendiri dan Executive Chairman World Economic Forum, yang pertama kali memperkenalkan revolusi industri 4.0.

Dalam bukunya yang berjudul The Fourth Industrial Revolution (2017), ia menyebutkan bahwa pada saat ini kita berada dalam tahap awal sebuah revolusi yang secara fundamental dapat mengubah cara hidup, bekerja dan berhubungan satu dengan yang lainnya.

Perubahan-perubahannya

Perubahan yang akan terjadi ini sangatlah dramatis dan terjadi pada kecepatan eksponensial. Perubahan yang terjadi ini sangat berpengaruh dalam berbagai bisang kehidupan di bandingkan dengan era revolusi industri yang terjadi sebelumnya.

Pada revolusi Industri 1.0 yang sudah terjadi, munculnya mekanisasi dan energi yang berbasis uap dan air menjadi penandanya.

Tenaga manusia dan hewan dapat digantikan oleh berbagai mesin yang dibuat pada saat itu. Mesin uap yang ada pada abad ke-18 adalah salah satu dari pencapaian yang paling tinggi.

Revolusi industri 1.0 ini dapat meningkatkan perekonomian masyarakat dengan sangat luar biasa. Sepanjang dua abad setelah revolusi industri 1.0 ini pendapatan perkapita dari negara-negara yang ada di dunia meningkat enam kali lipat.

Dimulainya revolusi Industri 2.0 dengan ditandai berkembangnya energi listrik dan juga motor penggerak. Manufaktur dan produksi secara massal terjadi pada saat itu. Pesawat telepon, pesawat terbang, dan juga mobil menjadi contoh pencapaian tertinggi dari revolusi industri 2.0 ini.

Perubahan yang cukup cepat ini terjadi pada revolusi Industri 3.0. Ditandai dengan tumbuhnya berbagai industri dengan basis elektronika, teknologi informasi, dan juga otomatisasi.

Berbagai teknologi digital dan juga internet mulai dikenal pada akhir revolusi industri 3.0. Revolusi Industri 4.0 ini ditandai dengan mulai berkembangnya Internet of/for Things, kehadirannya sangatlah cepat.

Banyak sekali hal yang tidak terpikirkan sebelumnya, muncul secara tiba-tiba dan menjadi inovasi yang baru, serta membuka suatu lahan bisnis yang sangat besar. Munculnya transportasi dengan menggunakan sistem ride-sharing seperti Go-jek, Grab, dan Uber.

Kehadiran revolusi industri 4.0 ini memang dapat menghadirkan berbagai usaha baru, lapangan kerja baru, profesi baru yang tidak terpikirkan sebelumnya.

Baca Juga: Skill yang Harus Dimiliki Pada Era Revolusi Industri 4.0

 

PENDAPAT PARA AHLI TENTANG REVOLUSI INDUSTRI 4.0

Ada beberapa pendapat para ahli tentang revolusi industri 4.0 yang sudah memasuki tahap awal ini, yaitu sebagai berikut:

Pendapat yang pertama

Menurut Jobs Lost, dan Jobs Gained: Workforce Transitions in a Time of Automation, yang dirilis McKinsey Global Institute pada Desember 2017, yang mengakatakan bahwa pada tahun 2030 sebanyak 400 juta sampai dengan 800 juta orang harus mencari suatu pekerjaan baru, karena digantikan oleh mesin dan juga robot.

Pendapat yang kedua,

Dikemukakan oleh Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional, Bambang P.S. Brodjonegoro, mempunyai pendapat yang sama dengan McKinsey & Co. Menurutnya, pada saat memasuki revolusi industri 4.0 ini Indonesia akan kehilangan 50 juta peluang kerja.

Pendapat yang ketiga,

dikemukakan oleh Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto. Bertentangan dengan pendapat yang disampaikan oleh Mentri Perencanaan Pembangunan Nasional, Bambang P.S. Brodjonegoro, Airlangga Hartanto nerpendapat bahwa revolusi industri 4.0 justru akan memberi kesempatan bagi Indonesia untuk dapat berinovasi.

Revolusi yang fokus pada berbagai pengembangan ekonomi digital dinilai akan menguntungkan bagi Indonesia. Pengembangan ekonomi digital yaitu pasar dan juga bakat, menurutnya Indonesia mempunyai kedua hal tersebut.

Ia tidak sependapat bahwa revolusi industri 4.0 akan mengurangi tenaga kerja yang ada, sebaliknya justru akan meningkatkan efisiensi dari industri yang ada.

 

APA ITU PROGRAM MAKING INDONESIA 4.0?

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) akan segera meluncurkan suatu program Making Indonesia 4.0. Program Making Indonesia 4.0 adalah suatu peta jalan (road map) yang terintegrasi dan kampanye untuk menerapkan berbagai strategi dalam menghadapi era revolusi industri ke-4 (Revolusi Industry 4.0). Peta jalan (road map) tersebut sudah diluncurkan pada 4 April 2018.

Sebagai langkah pertama dalam menjalankan program Making Indonesia 4.0, terdapat lima industri yang akan menjadi fokus dalam implementasi revolusi industri 4.0 yang ada di Indonesia, yaitu:

  1. Makanan dan minuman
  2. Tekstil
  3. Otomotif
  4. Elektronik
  5. Kimia

Lima industri ini adalah tulang punggung, dan diharapkan untuk dapat membawa pengaruh yang besar dalam hal daya saing dan kontribusinya terhadap perekonomian yang ada di Indonesia untuk menuju 10 besar ekonomi dunia di tahun 2030.

Kelima sektor inilah yang nantinya akan menjadi contoh bagi pengaplikasian revolusi industri 4.0, penciptaan lapangan kerja yang baru dan investasi baru berbasis teknologi.

Industri 4.0 yang ada di Indonesia ini akan banyak menarik investor luar negeri ataupun domestik di Indonesia, karena industri 4.0 yang ada di Indonesia lebih produktif dan akan sanggup untuk bersaing dengan berbagai negara lainnya yang ada di dunia, serta akan berusaha semakin baik yang disertai dengan peningkatan berbagai kemampuan tenaga kerja yang ada di Indonesia dalam mengadopsi berbagai teknologi yang ada.

Revolusi mental juga harus dilaksanakan, mulai dengan mengubah mindset negatif dan juga ketakutan terhadap revolusi industri 4.0 yang akan mengurangi banyak lapangan pekerjaan atau paradigma yang berasumsi bahwa teknologi itu sangat sulit.

Hal yang perlu dilakukan

Kita harus berusaha dengan keras untuk terus-menerus meningkatkan kemampuan belajar tentang berbagai ketrampilan yang dibutuhkan pada era industri 4.0 ini, sehingga kita akan mempunyai suatu daya saing yang lebih kuat.

Kita tentu mempunyai harapan supaya industri 4.0 tetap dalam kendali. Harus tercipta berbagai kesadaran bersama baik oleh pemerintah, dunia usaha ataupun masyarakat, bahwa perubahan yang besar dalam industri 4.0 adalah keniscayaan yang tidak dapat untuk dihindari.

Dengan berbagai potensi yang tersedia kita harus menjadi pelaku aktif dalam industri 4.0 yang mendapat manfaat atas perubahan besar tersebut.

Tantangan ke depan yaitu meningkatkan skill atau ketrampilan tenaga kerja di Indonesia, mengingat sekitar 70% angkatan kerja adalah lulusan SMP. Pendidikan sekolah vokasi menjadi suatu kewajiban supaya tenaga kerja dapat langsung terserap ke industri.

Selain itu Pemerintah juga perlu untuk meningkatkan porsi belanja riset baik dengan melalui skema APBN atau dengan memberikan suatu insentif bagi perguruan tinggi dan perusahaan swasta.

Pada saat ini porsi belanja untuk riset, Indonesia hanya sekitar 0,3% dari PDB di tahun 2016, sementara Negara Malaysia sebesar 1,1% dan China sudah mencapai 2%.

Belanja riset termasuk untuk pendirian techno park di berbagai daerah sebagai pusat sekaligus untuk pembelajaran bagi calon-calon wirausahawan pada era revolusi industri 4.0 ini.

 

FAKTA REVOLUSI INDUSTRI 4.0

  1. Pada 2020, perusahaan industri yang ada di Eropa akan berinvestasi sebesar 140 miliar euro setiap tahun dalam solusi internet Industri.

Selama 5 tahun ke depan, perusahaan-perusahaan industri yang berada di eropa, rata-rata diprediksi akan mengalokasikan sebesar 3,3% dari pendapatan tahunan mereka untuk memenuhi kebutuhan solusi internet (digital)  untuk kegiatan Industri.

Apabila di total dari seluruh perusahaan, biaya yang dikeluarkan senilai dengan 50% dari investasi modal baru yang direncanakan. Jumlahnya dalam satutahun pun dapat mencapai lebih dari 140 miliar euro.

Solusi internet ini pun berbagai macam mulai dari artificial intelligence (AI), internet of things (IoT), dan berbagai teknologi internet untuk kegiatan industri.

  1. Dalam kurun waktu 5 tahun kedepan, lebih dari 80% perusahaan akan mendigitalkan semua proses bisnisnya.

Sekitar 25 % dari perusahan yang sudah di survey oleh PWC telah melakukan digitalisasi terhadap tahapan tingkat tinggi dalam proses bisnisnya.

Perusahaan yang sudah di survey juga mempunyai harapan bahwa penerapan digitalisasi pada bisnisnya akan dapat mencampai 86% secara horisontal (dari seluruh divisi atau unit) dan 80% secara vertikal (dari jenjang bawah sampai dengan atas).

Perusahaan yang ada di eropa akan diprediksi mempunyai tingkat digitalisasi yang tinggi pada tahun 2020 dan akan terintegrasi dengan erat.

  1. Revolusi industri 4.0 akan meningkatkan produktivitas dan meningkatkan suatu efisiensi sebesar 18% dalam 5 tahun.

Sektor industri akan diharuskan untuk memproduksi berbagai bahan mentah dengan menggunakan energi yang lebih sedikit.

Revolusi industri 4.0 ini dapat memungkinkan meningkatkan produktivitas dan efisiensi sumber daya yang lebih tinggi. Sehingga dengan demikian akan menciptakan suatu kondisi untuk produksi yang berkelanjutan dan juga efisien.

Perusahaan yang sudah disurvei oleh PWC mempunyai prediksi bahwa akan mengalami peningkatan efisiensi rata-rata sebesar 3,3% per tahun di semua sektor karena digitalisasi rantai nilai. Perusahaan mengharapkan penghematan tahunan mencapai 2,6% sehubungan dengan pengurangan berbagai biaya operasionalnya.

Pada era revolusi industry 4.0 sudah di mulai. Kita, sebagai pelaku usaha, harus mulai mempertimbangkan berbagai peluang yang ada pada era  revolusi industri 4.0 ini.

Pada era revolusi industri 4.0 ini akan ditandai dengan penggunaan teknologi internet dan digital secara besar-besaran di berbagai perusahaan besar.

Hal ini tidak menutup kemungkinan pada bisnis bersekala yang lebih kecil, pada sektor usaha mikro kecil menengah atau UMKM. Maka dari itu untuk para pelaku UMKM dapat menyiapkan berbagai kebutuhan teknologi untuk business continuity.

Harapannya tingkat inovasi di Indonesia yang pada saat ini berada diperingkat 87 dunia dapat terus meningkat sehingga akan lebih kompetitif di era transisi teknologi pada saat ini.

Kesimpulannya adalah revolusi industri 4.0 bukanlah suatu kejadian untuk ditakutkan, justru peluang yang tersedia semakin luas terbuka bagi anak bangsa untuk dapat berkontribusi terhadap perekonomian nasional.

Digital Site Kami seorang Muslim dan seorang pemimpi. Kami berprinsip bahwa ketika kami melakukan hal yang TERBAIK dengan DOA, maka yang BAIK akan TERCAPAI dengan SEMPURNA. ( Fuad & Nanda )

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *