Digital Site Kami seorang Muslim dan seorang pemimpi. Kami berprinsip bahwa ketika kami melakukan hal yang TERBAIK dengan DOA, maka yang BAIK akan TERCAPAI dengan SEMPURNA. ( Fuad & Nanda )

Akad Murabahah

6 min read

akad murabahah adalah

Terdapat banyak sekali bentuk jual beli yang terdapat dalam Islam. Salah satu yang umum dijumpai adalah akad murabahah.

Pada prinsipnya, semua kegiatan ekonomi yang dilaksanakan oleh manusia mempunyai tujuan untuk mendapatkan keuntungan.

Apabila kita mengetahui kegiatan menjual dengan istilah penjualan secara umum, maka dalam ekonomi islam dikenal dengan istilah ba’i.

Dalam bahasa Arab jula beli dikenal dengan istilah al-bay’u yang mempunyai arti saling menukar atau pertukaran dari satu barang dengan yang lain.

Hal tersebut merujuk pada Q.S. Yusuf ayat 20:

Surat yusuf ayat 20

Artinya: Dan mereka menjual Yusuf dengan harga yang murah, yaitu beberapa dirham saja, dan mereka merasa tidak tertarik hatinya kepada Yusuf. (QS. Yusuf: 20).

Nah dalam artikel ini akan dijelaskan secara lengkap tentang akad murabahah. Berikut merupakan penjelasannya.

 

PENGERTIAN AKAD MURABAHAH

Murabahah adalah transaksi penjualan barang dengan mengungkapkan atau menyatakan harga perolehan dan keuntungan yang disepakati oleh penjual dan juga pembeli.

Hal yang menjadi pembeda murabahah dengan penjualan pada umumnya adalah bahwa penjual secara jelas memberitahukan kepada pembeli tentang harga pokok penjualan dan berapa besar keuntungan yang diinginkan.

Dalam hal ini, pembeli dan juga penjual bisa melakukan tawar-menawar terhadap besaran keuntungan, sehingga pada akhirnya diperoleh kesepakatan.

Penentuan Harga Pokok

Timbul perdebatan tentang harga perolehan, yaitu apakah hanya sebesar harga beli saja atau boleh ditambahkan dengan biaya lainnya.

Secara umum, diperbolehkan pembebanan biaya langsung yang harus dibayarkan kepada pihak ke-3.

Tapi, tidak diperbolehkan pembebanan biaya langsung yang berkaitan dengan pekerjaan yang seharunya dikerjakan oleh penjual, dan biaya yang tidak memberikan nilai tambah pada barang.

Harga beli memakai harga pokok, maksudnya yaitu harga beli setelah dikurangi dengan diskon pembelian.

Jika diskon diberikan setelah diadakan akad, maka diskon yang diperoleh akan menjadi hak bagi pembeli atau penjual sesuai dengan kesepakatan pada awal akad.

Dalam Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No.12 dijelaskan bahawa apabila dalam akad tidak mengatur, maka diskon yang ada akan menjadi hak penjual.

Diskon yang berhubungan dengan pembelian barang, antara lain sebagai berikut (PSAK No.102).

  1. Diskon yang berbentuk apapun dari pemasok terhadap pembelian barang.
  2. Diskon biaya asuransi yang berasal dari perusahaan asusransi dalam rangka pembelian barang.
  3. Komisi yang berbentuk apapun yang diterima terkait dengan pembelian barang.

Keuntungan yang Diinginkan

Untuk keuntungan yang diinginkan dapat dinyatakan dalam jumlah tertentu. Misalnya seperti Rp.20 juta atau berdasarkan persentase dari harga pokok.

Pembeli diperbolehkan untuk melakukan tawar-menawar dengan penjual terkait dengan besarnya keuntungan yang diinginkan penjual, sehingga disepakati besaran  keuntungan yang disetujui oleh penjual dan pembeli.

Besarnya keuntungan haruslah jelas dan harga barang yang sudah disetujui tidak boleh berubah.

Hal ini juga berlaku untuk penjualan yang melibatkan pembayaran secara angsuran, meski harga barang dan tingkat suku bunga di pasar meningkat.

Akad murabahah ini bisa dilakukan setelah barang dagangan sudah menjadi milik penjual.

Akad menjadi tidak sah jika penjual tidak atau belum menjadi pemilik dari barang yang akan dijualnya tersebut.

Baca Juga: Akad Musyarakah: Pengertian, Jenis, Rukun, Ketentuan, Sumber Hukum

 

JENIS-JENIS AKAD MURABAHAH

Terdapat 2 jenis akad murabahah, yaitu sebagai berikut.

  1. Akad Murabahah dengan Pesanan

Pada murabahah jenis ini, penjual akan melakukan pembelian barang setelah ada pesanan yang berasal dari pembeli.

Dalam hal tersebut pesanan bisa bersifat mengikat atau tidak mengikat pembeli untuk membeli barang yang sudah dipesannya.

Apabila bersifat mengikat, maka pembeli harus membeli barang yang sudah dipesannya dan tidak bisa untuk dibatalkan.

Begitupun sebaliknya, jika pesanan tersebut bersifat tidak mengikat maka pembeli bisa membatalkan untuk membeli barang yang sudah dipesannya tersebut.

Dalam murabahah pesanan mengikat, apabila barang murabahah yang sudah dibeli oleh penjual dari produsen mengalami penurunan nilai sebelum diserahkan ke pembeli.

Maka penurunan nilai tersebut menjadi tanggungan atau beban bagi penjual dan tentunya akan mengurangi akad.

  1. Akad Murabahah tanpa Pesanan

Dalam murabahah jenis ini, penjual melakukan pembelian barang ke produsen tanpa harus ada pesanan terlegih dahulu dari pembeli. Tentunya murabahah jenis ini bersifat tidak mengikat.

Baca Juga: Akad Mudharabah: Pengertian, Jenis, Rukun, Ketentuan, Sumber Hukum

 

RUKUN DAN KETENTUAN AKAD MURABAHAH

Berikut ini adalah beberapa rukun dan ketentuan dai akan murabahah.

Pelaku

Pelaku yang melaksanakan akad murabahah ini harus cakap hukum dan baligh (berakal dan bisa membedakan).

Karena proses jual beli dengan orang yang tidak waras dianggap tidak sah, sedangkan untuk proses jual beli dengan anak kecil dianggap sah jika seizing dari walinya.

Objek Jual Beli

Objek jual beri harus memenuhi beberapa syarat sebagai berikut.

  1. Barang yang diperjual belikan harus barang yang halal.

Sehingga semua barang yang diharamkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak bisa dijadikan sebagai objek untuk diperjual belikan.

Karena barang tersebut bisa menyebabkan umat manusia berbuat tindakan maksiat (melanggar larangan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Hal tersebut sejalan dengan sebuah hadist yang berbunyi: “Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala mengharamkan untuk menjual-belikan khamar (minuman keras), bangkai, babi, patung-patung”. (HR Bukhari dan Muslim).

Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala jika mengharamkan sesuatu juga mengharamkan harganya”. (HR Ahmad dan Abu Dawud).

  1. Harus mempunyai manfaat dan/atau mempunyai nilai.

Barang yang diperjual belikan bukan termasuk barang-barang yang dilarang untuk diperjual belikan, misalnya barang-barang yang sudah kadaluwarsa.

  1. Barang tersebut milik penjual.

Kegiatan jual beli terhadap barang yang tidak dimiliki oleh penjual dianggap tidak sah. Karena bagaimana bisa penjual menyerahkan kepemilikan barang kepada orang lain terhadap barang yang bukan miliknya.

Kegiatan jual beli yang dilakukan oleh bukan pemilik barang akan sah apabila mendapatkan izin dari si pemilik barang.

Kegiatan jual beli barang curian juga dianggap tidak sah, karena status kepemilikan dari barang tersebut masih berada pada si pemilik sah barang tersebut.

  1. Barang yang dijual bisa diserahkan tanpa tergantung dengan kejadian tertentu di masa yang akan datang.

Barang yang tidak jelas dalam waktu penyerahannya dianggap tidak sah.

Hal tersebut dikarenakan bisa menimbulkan ketidakpastian (gharar), yang pada gilirannya bisa berdampak merugikan salah satu pihak yang bertransaksi dan bisa menimbulkan perselisihan.

Tidak boleh menjual suatu barang yang sudah hilang, yang diharapkan bisa ditemukan kembali.

Demikian juga tidak boleh untuk melakukan jual beli terhadap barang yang sedang digadaikan atau sudah diwakafkan.

  1. Barang harus jelas.

Maksudnya barang yang dijual belikan haruslah barang yang sudah diketahui spesifikasinya dan bisa diidentifikasi oleh pembeli, sehingga tidak aka nada ketidakpastian.

  1. Diketahui kuantitas dan kualitasnya secara jelas.

Jangan melakukan jual beli secara ijon, karena jual beli secara ijon ini dilarang. Contohnya seperti menjual padi atau sebagainya sebelum masak dan diambil oleh pembeli sesudah masak.

  1. Harga barang diketahui pembeli dan penjual.

Harga terhadap barang yang diperjual belikan harus diketahu dengan jelas oleh penjual dan juga pembeli.

Beserta dengan cara pembayarannya, apakah akan dilakukan secara tunai atau tangguh (kredit) sehingga jelas dan tidak terjadi ketidakpastian.

  1. Barang yang dijual berada ditangan penjual.

Barang yang akan diperjual belikan yang keberadaannya tidak ada di tangan penjual maka akan menimbulkan suatu ketidakastian.

Hakim bin Hizam berkata: “Wahai Rasulullah sesungguhnya aku membeli barang dagangan, apakah yang halal dan apa pula yang haram daripadanya untuku?”.

Rasulullah Shallallahu `alaihi Wa Sallam bersabda: ”Jika kamu sudah membeli sesuatu barang, maka janganlah kamu menjualnya sebelum ada ditanganmu”.

Berdasarkan hadist tersebut, bisa disimpulkan bahwa future trading ini dilarang.

Pembeli yang menjual kembali barang yang sudah dia beli sebelum terjadi serah terima barang, bisa diartikan bahwa dia menyerahkan uang kepada pihak lain dengan suatu harapan bahwa akan mendapatkan uang lebih banyak dan hal tersebut disamakan dengan riba.

Berbeda halnya dengan proses jual beli dimana barang yang dijual belikan tidak ada di tempat akad, tapi barang tersebut ada dan dimiliki oleh penjual.

Hal tersebut diperbolehkan sepanjang mempunyai spesifikasi yang jelas, dan jika ternyata barangnya tidak sesuai dengan kesepakatan, maka pembeli boleh melakukan khiar (memilih, mau melanjutkan transaksi atau tidak).

Ijab Kabul

Adalah pernyataan dan juga ekspresi saling ikhlas/rela diantara para pihak yang melakukan akad yang dilakukan secara tertulis, dan verbal dengan melalui korespondensi atau berbagai cara komunikasi modern.

Baca Juga: Bank Syariah: Pengertian, Sejarah, Ciri, Jenis, Produk, Penilaiannya

 

SUMBER HUKUM AKAD MURABAHAH

Al-Quran

  • An-Nisa: 29

akad murabahah Surat An-Nisa ayat 29

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu”. (QS. An-Nisa: 29).

  • Al-Maidah: 1

akad murabahah Surat Al-Maidah ayat 1

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, penuhilah akad-akad itu. Dihalalkan bagimu binatang ternak, kecuali yang akan dibacakan kepadamu. (Yang dimikian itu) dengan tidak menghalalkan berburu ketika kamu sedang mengerjakan haji. Sesungguhnya Allah menetapkan hukum-hukum menurut yang dikehendaki-Nya”. (QS. Al-Maidah: 1).

  • Al-Baqarah: 275

akad murabahah Surat Al-Baqarah 275

Artinya: “orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli sama dengan riba, padahal Allah sudah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang kembali (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya”. (QS. Al-Baqarah: 275).

  • Al-Baqarah: 280

akad murabahah Surat Al-Baqarah 280

Artinya: “Dan jika (orang yang berhutang itu) dalam kesukaran, maka berilah tangguh sampai dia berkelapangan. Dan menyedekahkan (sebagian atau semua utang) itu, lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui”. (QS. Al-Baqarah: 280).

  • Al-Baqarah: 282

surat Al-Baqarah 282

Al-baqarah 282

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermua’malah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya. Dan hendaklah seorang penulis diantara kamu menuliskannya dengan benar. Dan janganlah penulis enggan menuliskannya sebagaimana Allah mengajarkannya, maka hendaklah ia menulis, dan hendaklah orang yang berhutang itu mengimlakan (apa yang akan ditulis itu), dan hendaklah ia bertakwa kepada Alllah Tuhannya, dan janganlah ia mengurangi sedikitpun daripada hutangnya. Jika yang berhutang itu orang yang lemah akalnya atau lemah (keadaannya) atau dia sendiri tidak mampu mengimlakkan, maka hendaklah walinya mengimlakkan dengan jujur. Dan persaksikanlah dengan 2 orang saksi dari orang-orang lelaki (di antaramu). Jika tidak ada 2 orang lelaki, maka (boleh) seorang lelaki dan 2 orang perempuan dari saksi-saksi yang kamu ridhai, supaya jika seorang lupa maka yang seorang mengingatkannya.

Janganlah saksi-saksi itu enggan (memberikan keterangan) apabila mereka dipanggil; dan janganlah kamu jemu menulis hutang itu, baik kecil atau besar sampai batas waktu membayarnya. Yang demikian itu, lebih adil di sisi Allah dan lebih menguatkan persaksian dan lebih dekat kepada tidak (menimbulkan) keraguanmu. (Tulislah mu’amalahmu itu), kecuali jika mu’amalah itu perdagangan tunai yang kamu jalankan di antara kamu, maka tidak ada dosa bagi kamu, (jika) kamu tidak menulisnya. Dan persaksikanlah apabila kamu berjual beli; dan janganlah penulis dan saksi saling sulit menyulitkan. Jika kamu lakukan (yang demikian), maka sesungguhnya hal itu adalah suatu kefasikan pada dirimu. Dan bertawakalah kepada Allah; Allah mengajarmu; dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. Al-Baqarah: 282).

Al-Hadist

“Allah mengasihi orang yang memberikan kemudahan bila ia menjual dan membeli serta di dalam menagih haknya”. (HR. Abu Hurairah).

Dari Abu Sa’id Al-Khudri bahwa Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya jual beli itu harus dilakukan suka sama suka”. (HR. Al-Baihaqi, Ibnu Majah, dan sahih menurut Ibnu Hibban).

Nah, itu merupakan sedikit penjelasan tentang akad murabahah. Semoga artikel ini bisa menambah wawasan dan bermanfata bagi Anda. Terimakasih.

Digital Site Kami seorang Muslim dan seorang pemimpi. Kami berprinsip bahwa ketika kami melakukan hal yang TERBAIK dengan DOA, maka yang BAIK akan TERCAPAI dengan SEMPURNA. ( Fuad & Nanda )

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *